Thursday, 28 June 2012

Mencari Jejak Kerajaan Islam Tertua Di Indonesia

Makalah Drs. Hasan Maarif Ambary,

Di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur derap pembangunan terasa sekali menggema setiap hari. Sepanjang areal 20 km. di sana-sini deru buldozer dan mobil-mobil trailer serta truk-truk besar menderu-deru membuat bising siapa saja yang kebetulan lewat pada jalur jalan raya Banda Aceh - Medan. Betapa tidak karena dikedua Kabupaten tersebut Pertamina telah menanamkan kukunya untuk mencoba menggali perut bumi tanah Rencong baik untuk mengambil gas alam maupun minyak bumi. Adalah tidak aneh kalau Pertamina mempertaruhkan harapan ditempat ini karena konon di Daerah Aceh Utara inilah terdapat sumber gas alam yang terbesar di Indonesia, bahkan adalah ucapan Ibnu Sutowo sendiri yang menyatakan bahwa dengan sumber gas alam saja dimasa-masa yang akan datang kita dapat menutup semua pinjaman-pinjaman kita dari luar negeri. Oleh karenanya cukup beralasan jika Pertamina telah menyiapkan dermaga pelabuhan untuk tanker-tanker besar bahkan menurut keterangan di dekat Lhokseumawe sedang dipersiapkan landasan kapal terbang untuk pesawat-pesawat raksasa. Kemudian agak ke sebelah timur sedikit antara Kuala Simpang dan Langsa masyarakat di sana telah dapat menikmati jalan by pass beraspal beton yang kwalitetnya tidak kalah dengan jalan yang memanjang dari Tanjung Priok-Cililitan. Jalan yang dibuat oleh pemborong dari Malaysia ini merupakan sumbangsih Pertamina kepada masyarakat Aceh Timur karena di Kuala Simpang Pertamina telah membuat "Kebayoran Baru" nya yang disediakan untuk kegiatan para karyawan Pertamina. Itulah sedikit gambaran derap pembangunan yang menderu di kedua Kabupaten Aceh Utara dan Timur. Tentu saja dibalik derap pembangunan ini disela-sela kesibukan tadi kita lihat dengan kontras kondisi jalan raya negara dan Propinsi di luar jalur jangkauan Pertamina masih terdapat ratusan kilometer lagi jalan-jalan yang berlobang-lobang, sehingga secara ironis orang di sana bertanya bukan bagaimana jalannya bagus atau tidak, tapi bagaimanakah jalannya bisa dilewati atau tidak, sebab kalau kendaraan bisa lewat saja sudah untung besar. Disinilah sejenak kita berpikir bahwa banyak benar yang harus kita buat untuk "menyeragamkan" derap pembangunan ini.
Di balik semua itu pada beberapa dusun dan kecamatan yang 7 abad berselang merupakan daerah ramai dan banyak dikunjungi kapal-kapal asing, maka kini daerah-daerah dimaksud yaitu Samudra Pasai dan Peureulak adalah sebuah tempat yang sepi dan sunyi, hanya ada beberapa tanda saja bekas-bekas kebesaran masa lampau sebagai kerajaan Islam terbesar dan tertua di Indonesia.
Di tempat-tempat sunyi inilah kerajaan Islam tertua di Indonesia bermula. Para ahli sejarah umumnya condong kepada pendapat bahwa kerajaan Islam yang tertua di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai. J.P. Moquette telah menunjang pendapat tersebut dengan menguraikannya berdasarkan batu nisan dari Malik As Shaleh di daerah Samudra yang wafat pada tahun 1297. Penemuan-penemuan itu dapat ditambah lagi dengan keterangan-keterangan dari naskah-naskah setempat yang dikenal sebagai Hikayat Raja-raja Pasai. Demikian pula Sejarah Melayu telah membumbui Hikayat tersebut di atas.
Namun kini kita dapat berpikir lain berdasarkan penemuan dan telaah dari beberapa naskah di daerah Peureulak ditambah pula di tempat tersebut juga terdapat beberapa makam kuno (sayang sekali tanpa ada angka tahunnya) dari raja-raja (Sultan Peureulak) ada anggapan bahwa sebenarnya kerajaan Peureulak sudah berdiri 3-4 abad sebelum ada kerajaan Samudra Pasai. Beberapa keterangan dari naskah-naskah yang kini sedang dipelajari oleh team penulisan Sejarah Kabupaten Aceh Timur atas prakarsa Arifin Amin (anggota DPRD Kabupaten Aceh Timur) bukanlah suatu usaha yang tiada berguna bahwa kerajaan Peureulak jauh lebih tua dari kerajaan Samudra Pasai atau tepatnya kerajaan Peureulak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. Inipun kita tidak mengenyampingkan kenyataan bahwa sejak abad ke-7 M. seperti yang disebutkan oleh DGE Hall (The History of South East Asia), pedagang-pedagang Arab Muslim sudah melakukan perdagangan dengan beberapa kerajaan di Indonesia.

1. MENCARI JEJAK
Seorang sarjana lapangan bangsa Belanda yang tertarik pada kepurbakalaan Islam bernama J.J. de Vink dari tahun 1912-1917, atas perintah dari Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst) telah dilakukan pemotretan, penggambaran dan pembuatan acuan (abklatsch) terhadap beratus-ratus kompleks kubur di Propinsi Aceh sekarang. Tapi sayangnya catatan yang dibuat oleh J.J. de Vink, berdasarkan Gouvernements Besluit 14 Maret 1912 dalam bentuk: Lijst der Fotograpsche opnamen gemaakt in't voormaligrijk Aceh, maupun catatan Abklats-nya tidak ada tentang Peureulak ataupun daerah Aceh Timur lainnya seperti Tamiang umpamanya. Rupanya dalam melakukan tugasnya selama lima tahun di daerah Aceh J.J. de Vink tidak sempat mengunjungi daerah Aceh Timur. Hal ini terus terang saja menarik perhatian kami sehingga terkandung niat juga mengunjungi daerah Aceh Timur dalam perjalanan kami ke daerah Propinsi Aceh sebagai acara terakhir, dengan harapan dapat menemukan hal-hal yang berguna bagi kepurbakalaan dan sejarah.
Ketika kami sampai di Langsa dan mendapat keterangan secukupnya dari beberapa pejabat Kabupaten Aceh Timur maka tujuan pertama penelitian adalah di daerah Peureulak.
Pada tanggal 2 Maret 1974, team gabungan (dua orang dari Pusat, satu orang dari Propinsi dan tiga dari Kabupaten) berangkat dari Langsa menuju Peureulak.Yang dituju pertamakali ialah Kecamatan Peureulak karena di sana nanti kami akan "dikawal" oleh seorang Pawang dan seorang lagi Kepala Mukim.
Dengan demikian maka kami berangkat dari Peureulak menuju tempat peninggalap bekas kerajaan Peureulak ini menjadi tujuh orang karena ditambah oleh sang Pawang (Teungku Sulaiman) dan Pak Mukim (Moh. Amin) menuju delta Krueng Tuan dan benteng Kareung Inong yang jaraknya dari kecamatan Peureulak kira-kira 27 km.
Adapun tempat yang dituju ialah sebuah hutan belantara yang jarang dikunjungi manusia dan masih "kaya" akan binatang hutannya seperti harimau, gajah, kijang dan sebagainya, dan yang agak sedikit mengerikan adalah bahwa jika kita melalui tempat tersebut akan disambut oleh sepasukan Pacet (lintah kecil) yang selalu siap sedia menyergap mangsa.
Salahseorang anggota team yang kebetulan wanita yaitu Sdr. Halina Hamzah mendengar kata Pacet sudah mulai gelisah tapi Pawang kami menyarankan membawa obat gosok saja atau garam. Anjuran Pawang tersebut kami penuhi. Tempat ini adalah makam Putri Nurul A'la (salahseorang bintang kejora kerajaan Peureulak dahulu) isteri Sultan Ahmadsyah 501-527H. = 1108-1134 M. Setelah melalui jalan berdebu dan sering pula harus berpacu dengan truk-truk pengangkut pasir yang di kiri-kanan terhampar kilang dan pipa minyak. Setelah satu jam perjalanan sampailah di tepi hutan dan kami harus berjalan kaki. Kendaraan kemudian disimpan di tepi jalan dan dengan didahului oleh Pawang kami mulai menerobos hutan melalui jalan setapak dan harus membungkuk karena akan terantuk pada duri rotan. Baru berjalan lima puluh meter Sdr. Halina sudah berteriak histeris, rupanya ketika melihat ke tanah berpuluhpuluh Pacet siap menari-nari. la menjadi ketakutan dan berlari kembali ke jalan raya. Akhirnya ia duduk saja di mobil ditemani pak Supir dan selama perjalanan kami mengelilingi Propinsi Aceh baru sekali inilah ia absen dari acara gara-gara Pacet.
Setelah berjalan sejauh 4 Km. kami sampai ke delta Kreung Peureulak dan Kreung Tuan dan pada sisi atas delta terhampar sebuah makam Putri Nurul A'la. Sebelum kami melihat terlebih dahulu Pawang membacakan do'a selamat. Di sinilah dimakamkan Putri Nurul A'la yang pada masa dahulu menjadi rebutan putra-putra raja dari kerajaan-kerajaan lain di luar Peureulak, kini terbujur sepi jauh di hutan belantara, tapi jika membayangkan ke masa dahulu pastilah delta sungai Peureulak ini dulunya sangat ramai dilalui perahu dan pedagang. Batu nisannya sangat sederhana sekali namun menunjukkan ciri-ciri yang archais berukuran tinggi sekitar 40 cm. dan pada bagian lebar terdapat tiga kolom berukir bunga-bungaan dengan di tengahnya huruf kufi bertulisan: La ila ha illal'lah, tidak ada kalimat lain selain itu. Tradisi menuliskan nama yang dikuburkan seperti di Samudra Pasai, Aceh Besar dan daerah-daerah lainnya rupanya tidak meresap ke sini.
Walaupun nisan ini tidak memuat nama dan angka tahun bukan berarti tidak penting karena kita juga mengetahui, bahwa di beberapa tempat lain seperti di Banten, Cirebon, Demak, Imogiri, Gresik dan sebagainya, banyak makam yang tidak memakai nama atau angka tahun tapi dapat diketahui identifikasinya berdasarkan tradisi, seperti di Cirebon misalnya dalam kitab Purwaka Caruban nagari karya Pangeran Arya Cirebon (1720), disitu termuat nama-nama tokoh yang dimakamkan di kompleks Gunung Jati Cirebon. Demikian pula halnya dengan kerajaan Peureulak, kitab semacam Idhalul haq fi mamlakatul Peureulak karya Abu Ishak Al Marakain mungkin bisa memberi petunjuk ke arah itu. Setelah kami melakukan pemotretan dan pengukuran seperlunya barulah kami membuka oleh-oleh yaitu membuka alas kaki yang dari tadi sudah mulai terasa gatal. Ternyata ketika dibuka sudah delapan ekor pacet bertengger dekat mata kaki hingga darah mengucur terus dan barulah ketika dioles dengan obat gosok segera mencair dan darahpun berhenti mengucur.
Dalam perjalanan kembali alhamdulillah kami hanya ditempeli dua ekor pacet saja, hingga tidak begitu merisaukan. Mungkin bau obat gosok yang memenuhi kaki telah mengusir pacet-pacet yang siap menerkam dalam perjalanan. Ketika kaki yang masih berdarah kami tunjukkan pada Sdr. Halina ia hanya menutup muka saja dengan kedua tangannya. Saya menyatakan bahwa untuk tahun yang akan datang pada para mahasiswa arkeologi perlu praktek lapangan membasmi pacet dan kursus kilat cara-cara menempuh hutan belantara.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke sebuah benteng Kuno yang disebut Kareung Inong yang letaknya disela-sela perkebunan kelapa sawit milik P.P.N. Benteng tersebut kini telah dipenuhi semak belukar sehingga sangat sukar untuk mengukur panjang serta tinggi benteng ini. Untung saja beberapa bulan yang lalu telah diadakan kerja bakti membuat tangga masuk menuju benteng, sebab kalau tidak kita hanya melihat dari jauh saja. Dengan sukarnya mengadakan pengukuran dan penggambaran, kami hanya berpikir apakah benteng ini hanya merupakan batu alam yang secara ajaib dapat dimanfaatkan untuk pertahanan belaka. Namun batu yang tingginya hampir tiga meter ini dengan tangga masuk yang menyerupai teras masih merupakan teka-teki besar antara proses alamiah dan buatan tangan manusia.

2. SEKITAR KERAJAAN PEUREULAK
Berita tentang adanya kerajaan Perlak (Peureulak) sudah mulai disebut oleh musafir Italia bernama Marco Polo. La melakukan perjalanan ke Tiongkok pada akhir abad 13 M. Dalam perjalanan kembali dari Tiongkok ini ia mengunjungi beberapa daerah di Sumatera. Disebutkan bahwa kerajaan pertama yang dikunjungi di utara Sumatera ialah Perlak. Dikatakan olehnya bahwa penduduk negeri ini sudah menganut agama Islam.
Dari Perlak Marco Polo meneruskan perjalanan ke Basman (diperbatasan Kabupaten Aceh Timur-Utara) dan kemudian ke Sumara (amalah) yang dimaksud Samudra atau Samar Langga (dekat Bireuen). Mengenai dua kota yang terakhir itu Marco Polo tidak menyebutkan apakah penduduknya sudah beragama Islam atau tidak, karena berdasarkan petunjuk makam Malik As Shaleh seharusnya Samudra Pasai sudah disebutkan beragama Islam hingga mungkin Samara. di sini yang dimaksudkan adalah Samarlangga ( ± 50 km. utara Lhokseumawe).
Dalarn kisah perjalanan Syeh Abdur Rauf (Syeh Kuala) mengelilingi daerah Aceh (pada abad 17 M.), beliau selain menyebutkan Fansur, Barus, juga menyebut tempat bernama Syahir Nawi, yang terakhir ini belum jelas di mana letaknya, bahkan Prof. Syied Naguib Al Atas (University Kebangsaan Malaysia) memperkirakan bahwa Syahir Nawi adanya di Thailand. Kebetulan ketika kami bersama dengan Drs. Zakaria Ahmad (Kepala Kabin Permusiuman Propinsi Aceh) sempat berdiskusi dengan Sdr. Arifin Amin (team penulisan Sejarah Perlak). Ia menunjukkan daftar silsilah bahwa salah seorang Cakal Bakal Sultan-sultan Perlak yang berasal dari para Meurah (bangsawan pribumi) adalah Syahir Nawi, sehingga kami lalu menghubungkan ceritera perjalanan Syiah Kuala tentang Syahir Nawi mungkin yang dimaksud itu Peureulak. Sebuah lagi petunjuk bahwa kerajaan Peureulak adalah yang tertua jika dibanding dengan kerajaan Samudra Pasai adalah berita dari Hikayat raja-raja Pasai tentang perkawinan Merah Selu (Malik As Shaleh) dengan Putri Ganggang Sari dari Peureulak.
Dari silsilah raja-raja Peureulak kita melihat bahwa Putri Ganggang Sari adalah putri Sultan Peureulak XV: Muhammad Aminsyah (622-662 H. = 1225-1263 M.). Kini yang menjadi persoalan ialah cukuplah bahan-bahan kepustakaan untuk menunjang pendapat bahwa kerajaan Islam yang tertua di Indonesia. Berita Marco Polo memang sudah menunjukkan petunjuk kearah itu. Kini team sejarah Kerajaan Peureulak sedang berusaha mengumpulkan data-data dan bahan kepustakaan dan sedang menggarap beberapa naskah Arab dan Melayu yang memuat bahan tentang Kerajaan Peureulak. Beberapa naskah yang ditunjukkan kepada kami antara lain disebutkan:
1.    Kitab Jublul Hindi oleh Buruni Syahriar.
2.    Kitab Tarikh Salatin Gujarat oleh Miraz Sayyid Mahmud bin Munawaarul Muluk.
3.    Kitab Mamdalil Absar fi Mamalikil Amsar oleh Ibnu Fadhlullah.
4.    Kitab Zabdatul Tawarikh oleh Nurul Haq Al Masyriqiyyah Dahlan.
5.    Adhalul Haq fi Mamlakatil Peureula oleh Abu Ishak AI-Marakain.
Kitab-kitab tersebut di atas ini masih ditambah lagi dengan beberapa kepustakaan lain seperti Riwayat Negeri Salasuri Samudra Pasai. Kitab Hamzah Fansuri, Kitab Samsuddin As Sumatrani, Hikayat Putri Nurul A'la dan sebagainya.

3.SUSUNAN SULTANAT KERAJAAN PEUREULAH:
Peureulak berasal dari nama pohon kayu "bak Peureulak" yang bisa dibuat perahu. Kita ketahui beberapa bangsa lain juga mengenal jenis pohon tertentu untuk membuat perahu seperti pohon Papirus, yang dibuat perahu oleh bangsa Mesir Kuno dan pohon Balzak yang dipergunakan oleh bangsa Aztek dan Inca untuk mengarungi samudra Atlantik pada masa Purba, yang terkenal dengan ekspedisi Kontikinya. Negeri Peureulak adalah termasuk negeri tertua di Sumatera yang namanya dari dahulu hingga sekarang tetap tidak berubah-ubah. Dalam suatu tradisi yang dibuat sambung-bersambung maka dalam sejarah Peureulak terdapat dua konsentrasi kekuasaan dengan dua dinasti yang pada satu saat pernah memerintah bersamaan dengan ibukota negara yang berbeda. Yang pertama ialah dinasti Sayid atau dinasti Aziziah, tadinya merupakan seorang pendatang dari Persia dan menetap di Peureulak.
Mereka akhirnya dapat mendirikan sebuah kerajaan yang berkedudukan di Peureulak Baroh atau Bandar Khalifah.
Dinasti Sayid Maulana merupakan pendiri kerajaan Peureulak berkuasa selama 148 tahun yaitu 225-377 H. = 840-988 M. dengan Sultan yang pertama bernama: Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah (225-249H. = 840-864M.). Dinasti Sayid ini hanya berkuasa sampai lima generasi saja karena kemudian timbul kekuasaan baru dari kalangan para Meurah (Mohrat = maharaja) yang pertama turunan Syahir Nawi.
Pada masa pemerintahan Sultan Makhdar Alaiddin Abdulkadirsyah 918-922M. terjadi perebutan kekuasaan antara dinasti Aziziah dan Dinasti Meurah di bagian Tunong dan sejak itu mulailah memerintah para Meurah Peureulak asli. Mereka memindahkan pusat kekuasaan dari Bandar Khalifah ke suatu dataran yang sangat subur, dikelilingi oleh sungai yang memudahkan untuk lalu-lintas di hulu sungai Tuan. (Disinilah putri Nurul A'la dimakamkan dan ke sini pulalah kami berkunjung namun petunjuk bekas keraton belum dapat kami lihat karena tidak nampak dari permukaan tanah, mungkin dengan ekskavasi dapat dicari jejak bekas keraton?).
Sejak masa Sultan Abdulkadir ini dapat dikatakan bahwa kerajaan Peureulak terpusat di dua tempat, yang pertama di Bandar Khalifah (letaknya di kota kecamatan Peureulak sekarang) dan di Tunong. Pada masa pemerintahan Muhammad Aminsyah (1225-1263 M.) salah seorang putri Peureulak bernama Ganggang Sari menikah dengan Marah Silu (Malik As Shaleh) pendiri kerajaan Samudra Pasai.
Dengan ini terbukalah kemungkinan bahwa kerajaan Islam yang tertua di Indonesia sebenarnya adalah kerajaan Peureulak. Beberapa petunjuk telah memberi jalan ke arah itu. Penelitian sumber-sumber primer dan penggalian kepurbakalaan akan banyak membantu menunjang berhasilnya penulisan kerajaan Peureulak.


For You

2 comments:

This comment has been removed by the author.

situs ini maksutnya.. http://cooljalil.blogspot.com/

Post a Comment

ila Online - Just For Fun

Site Search