Harga Seorang Ibu

Apakah Seorang Ibu bisa Dihargai ?? Berapa Anda Mau Beli??

Kami Anak Rohis Masalah Buat Lo...;

Rohis Jadi sorotan Gara-Gara sering dituduh Sarang Teroris

Jadi Akhwat Kudu Kuat

Anda Kuat Dunia Kuat

Film Baru Hina Nabi

Muncul Lagi Maunya Apa Sih??

Negara-Negara Terkorup

9 Desember Adalah Hari Anti Korupsi Sedunia

Saturday, 12 January 2013

Menumbuhkan Karakter Hizbullah III


B.Lemah lembut kepada sesama muslim dan keras kepada orang kafir

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini, "Inilah sifat orang
mukmin yang sempurna yaitu tawadhu' dan rendah diri kepada saudara dan
para walinya, kemudian keras kepada musuh-musuhnya(orang kafir).
         Contoh Ketawdhuan yag harus kita contoh ialah ketwadhuan  imam Abu Hanifah r.h, suatau ketika Abu hanifah melewati anak-anak yang sedang bermain di jalan, dia berkata pada salah satu orang di antara mereka : “ wahai anak-anak ku hati-hati nanti jatuh ketanah, anak-anak menjawab :” Engkau yang harus hati-hati, agar jangan sampai jatuh karena terperosoknya orang sholeh adalah terperosoknya alam ( maksudnya kesalahanya menyebabkan kesalahan manusa lainya )
            Abu hanifah berkata : Demi Allah sejak itu aku tidak mengeluarkan fatwa setelah berdiskusi dengan murid-muridkan selama 40 hari
Ingatlah wahai sahabat “
"Tawadhu'termasuk akhlak para nabi dan sombong termasuk akhlak orang-orang kafir dan para firaun."
            Sedang Keras disini ialah keras secara Aqidah dan di Aplikasikan dalam prinsip-prinsip syari’ah, diantara keras itu adalah tidak mengikuti adat istiadat mereka “
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)
         Kita tidak bisa mengikuti adat dan budaya mereka karena kita sebagai umat islam secara tegas memiliki karakter tersendiri yaitu karakter yang bersumber dari kalamullah, kita akan menjadi mulia dengan sumber itu jika kita memilih selain itu maka kita akan hina.
            Umar ibnu khotob telah mengatakan “kita adalah umat yang telah dimuliakan dengan islam barang siapa mencari kemuliaan selain dengan islam maka ia akan hina “

Menumbuhkan Karakter Hizbullah 4


C.Ahlul Jihad.
Mereka adalah orang yang selalu menegakan islam dengan usaha yang sungguh-sungguh mereka senantiasa berada di garis depan dan terdepan dalam jihad fiesabilillah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Aljihad
adalah diantar bukti kecintaan seseorang yang tinggi kepada Robbnya.”
Karena ia mengorbankan harta dan bahkan nyawanya untuk Allah Ta’ala
padahal keduanya adalah sesuatu yang sangat berharga baginya, jika
tidak memiliki sifat ini sangat mungkin seseorang meninggalkan
perjuangannya karena secuil kesenangan dunia dan pasti bakhil untuk
berkorban di jalan Allah Ta’ala sehingga Allah Ta’ala memujinya dengan
Jihad yang dilakukan harus sungguh – Sungguh karena kesungguhan adalah Jihad Lihat QS: 22:78
Dan berjihadlah kamu dengan sebenar-benarnya Jihad.(Qs.22:78)
Pernah Abu dzar R.a bertanya” Amalan apa yang  paling utama ? Nabi saw menjawab “ Iman kepada Allah dan Jihad di jalanNya ( HR.Bukhori)
Para sahabat telah mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya berjuang untuk Allah, suatu ketika umair bin Alhumam sedang berada di medan perang.
            Suatu ketika ada seorang badui datang menemui nabi saw, lalu dia beriman dan mengikuti beliau . kemudian dia berkata, “ aku akan berhijrah bersama engkau ?” maka beliau (rasulullah)  menitipkan orang badui ini kepada  sebagian sahabat beliau. Setelah terjadi perang, nabi saw mendapatkan ghonimah, beliau membagikan dan membagi untuk dirinya, lalu beliau saw memberikan kepada para sahabat beliau sesuatu yag beliau bagi untuknya dan dia sendiri sedang mengatur urusan mereka, setelah ia datang ( sahabat) ia memberikan nya pada orang itu ( orang badui) lalu ia berkata “ “ Apa ini ??? mereka menjawab “ bagian yang telah nabi saw bagi untuk mu “ kemudian dia mengambilnya dan membawanya menemui nabi saw lalu bertanya “ Apa ini ??  beliau bersabda “ aku telah membaginya untukmu “ lalu orang badui itu mengatakan  “ Bukan untuk hal ini aku mengikuti engka, tapi aku mengikuti engkau agar aku dilempar kesana dan kesini sambil ia menunjuk tenggorokanya sendiri dengan tombak, sampai aku mati dan aku masuk syurga” jika kamu jujur kepada Allah niscaya Allah jujur kepada mu..”
  Benar saja tak lama kemudian para sahabat kembali melanjutkan peperanganya, setelah usai perang  orang badui itu syahid dalam dirinya terdapat luka tepat dimana yang ia tunjuk tadi. Ketika itu rasulullah mendo’akan beliau “ Ya Allah inilah Hamba Mu, dia telah keluar berhijrah di jalan Mu, lalu ia terbunuh dalam keadaan syahid, dan ku menjadi saksi atas hal ini ( HR.An-nasa’i)
            Maka ghiroh yang seperti inilah yang harus kita miliki dan kita aplikasikan pada jihad konteks hari ini, jika hari ini jihad adalah amar makruf maka bagaimana kita dapat beramar ma’ruf dan nahi munkar dengan semagat baja tersebut.
            Dengan demikian kita telah menuju satu karakter yaitu karakter hizbullah.


Menumbuhkan Karakter Hizbullah 5


D.Berani, Teguh Dan Sabar
            Sifat selanjutnya dari hizbullah adalah  berani alias tidak takut celaan orang,, rasulullah saw mengajarkan doa kepada kita dengan do’a “ Yang suka mencela atas jalan Allah, Rasulullah telah mengajakan do’a kepada kita dengan do’a “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada Mu dari sifat kikir.
            Selaku orang yang berjiwa hizbullah memang harus berani baik dicela ataupun di bantai sekalipun ketika menajalankan syariat islam ini atau dalam berjihad ini, masih ingatkan kita tentang kisah keberanian thariq bin jiyad Thariq beserta pasukannya dihadapkan dengan 25.000 prajurit Visigoth. Sebuah peperangan yang tidak seimbang dalam segi jumlah. Tapi tentu saja, bagi kaum muslimin hal itu sama sekali bukan masalah. Bukankah sekian banyak peperangan yang dimenangkan oleh kaum muslim, adalah ketika jumlah mereka jauh lebih sedikit dari musuh??? Pada mulanya kedatangan pasukan Thariq ini membuat heran Tudmir, penguasa setempat yang berada di bawah kekuasaan Raja Roderick, karena mereka datang dari arah yang tidak diduga-duga, yaitu dari arah laut
Namun, yang fenomenal adalah, tindakan yang diambil oleh sang panglima Thariq bin Ziyad yang memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa para pasukan kaum muslimin!!! Sebuah langkah yang sampai sekarang dicatat dalam sejarah sebagai suatu bentuk keberanian dan keyakinan yang tiada banding, yang hanya bisa dilakukan atas dasar keimanan yang besar dan keyakinan akan pertolongan Allah SWT ditengah suasana pertempuran dan  kondisi pasukan muslim yang saat itu sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.
Sebuah pidato panjang yang disampaikan oleh panglima mereka, Thariq bin Ziyad yang membuat jiwa kaum muslimin yang siap berjihad menggelora……

     
“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?, Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian!!”Akhirnya pertempuran ini dimenangkan oleh Thariq beserta pasukan kaum muslimin. 

Menumbuhkan Karakter Hizbullah 6


E.MENJADIKAN ALLAH SEBAGAI PENOLONG

AYAT 55-56 dalam Qs.almaidah  turun berkenaan hijrah nya rasulullah kemadinah Beliau didatangi oleh Bani Asad bin Khuzaimah. Mereka berjumlah tujuh ratus orang, laki-laki dan perempuan. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah diasingkan dan diputus dari kabilah dan keluarga kami. Lalu siapakah yang menolong kami?” Kemudian turunlah ayat ini.
Walaupun dalam ayat ini yang menjadi penolong adalah Allah,rasul dan orang beriman namun semua berpangkal kepada satu yaitu Allah swt, semuanya diungkapkan dalam bentuk tunggal (waliyyukum) dan tidak diungkapkan dalam bentuk jamak (awliyâukum).
Abdurrahman as-Sa’di menuturkan, berwali kepada Allah dilakukan dengan beriman dan bertakwa kepada-Nya. Siapapun yang Mukmin dan bertakwa, sesungguhnya dia telah berwali kepada Allah. Siapa yang berwali kepada Allah, berarti dia telah berwali kepada Rasul-Nya. Siapapun yang berwali kepada Allah dan Rasul-Nya, dia juga berwali kepada orang-orang yang berwali kepada-Nya, yakni kaum Mukmin yang melaksanakan keimanannya secara lahir-batin, yang ikhlas terhadap Tuhannya dengan mendirikan shalat beserta segala syarat, fardhu, dan penyempurnanya; memperbaiki akhlak; dan membayar zakat dari harta mereka untuk orang-orang yang berhak atasnya.
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
Orang-orang Mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. (QS at-Taubah [9]: 71)
Dan orang mukimin yang menjadi penolong adalah seorang mukmin yang benar dalam kemukminanya yaitu yang menjalankan syari’at seperti sholat,zakat dan yag lainya.
            Ayat selanjutnya menunjukan kita hanya diperbolehka n menjadikan Allah,rasul dan orang beriman sebagai penolong, kita hanya boleh loyal kepada mereka, dan tidak boleh loyal kepada selain mereka.
            Nah apabila semua bisa melaksanakan sifat-sifat di atas dialah orang yang memilki karakter hizbulloh.                                   

            =è karakter dalam QS Al-mujadilah :22   
 Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Q.s. Al-Mujadilah: 22)
Ciri-ciri hizbullah dalam ayat ini adalah baro’ ( ati loyalitas ) kepada orang –orang yang memusuhi islam.
Tidak berkasih sayang kepada mereka sekalipun mereka adalah orang tua atau kerabatnya Diriwayatkan bahwa ayat 22 ini turun mengenai kejadian Abu Ubaidah bin Al-Jarrah ketika ia membunuh ayahnya dalam perang badar. Juga Mush’ab bin Umair telah membunuh saudara sekandung Ubid bin Umair. Sedangkan Abu Bakar As-Siddiq hampir membunuh puteranya Abdurrahman




Kisah seorang Yahudi yang mengislamkan jutaan orang


          (Arrahmah.comDi suatu tempat di Perancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim, ia adalah orang tua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen dimana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama "Jad" berumur 7 tahun.
Jad si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat dimana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah, setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.
Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.
Ibrahim pun menjawab: "Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu!" Jad pun menyetujuinya dengan penuh kegirangan.
Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi.
Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.
Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.
14 tahun berlalu, kini Jad telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.
Ibrahim pun akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya dimana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.
Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak, Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya,  dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.
Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.
Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.
Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.
Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, "Buku apa ini !?"
Ia menjawab : "Ini adalah Al-Qur'an, kitab sucinya orang Islam!"
Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,
Jad lalu kembali bertanya: "Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?"
Temannya menjawab : "Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!"
Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!
Jadullah seorang Muslim.
Kini Jad sudah menjadi seorang muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur'an.
Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur'an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.
Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur'an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :
((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ...!!))
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!..." (QS. An-Nahl; 125)
Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.
Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang diantaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zolo, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.
Akhir Hayat Jadullah
Jadullah Al-Qur'ani, seorang muslim sejati, da'i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.
Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.
Kisah pun belum selesai
Ibu Jadullah Al-Qur'ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.
Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.
Kemudian yang menjadi pertanyaan: "Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?"
Jadullah Al-Qur'ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: "Hai orang kafir!" atau "Hai Yahudi!" bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: "Masuklah agama islam!"
Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur'an.
Kemudian dari kesaksian DR. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur'ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani.
Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani. Dan Jadullah Al-Qur'ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.
Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur'ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai "Syaikh Kaum Revolusioner Mesir". Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam.
Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur'ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid'ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.
Dulu da'i-da'i kita telah berjuang mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam malah justru dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukumi nanti. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang.
Mari kita renungi kembali surat Thaha ayat 44 yaitu Perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Harun –'alaihimassalam– saat mereka akan pergi mendakwahi fir'aun. Allah berfirman,
((فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى))
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut."
Bayangkan, fir'aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut. Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun? Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari fir'aun sehingga Al-Qur'an pun merekam kekafirannya hingga kini? Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dahwah dengan metode Al-Qur'an? Yaitu dengan Hikmah, Nasehat yang baik, dan Diskusi menggunakan argumen yang kuat namun tetap sopan dan santun?
Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini. Oleh karenanya, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, bisa jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam. Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam. Lalu jika sekarang ada orang muslim, bisa jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir. Na'udzubillah tsumma Na'udzubillahi min Dzalik.
Karena sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri paling suci sehingga tak mau menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada nabi Adam –'alaihissalam–. Oleh karena itu, bisa jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah!
Marilah kita pertahankan akidah Islam yang telah kita peluk ini, dan jangan pernah mencibir ataupun "menggerogoti" akidah orang lain yang juga telah memeluk Islam serta bertauhid. Kita adalah saudara seislam seagama. Saling mengingatkan adalah baik, saling melindungi akidah sesama muslim adalah baik. Marilah kita senantiasa berjuang bahu-membahu demi perkara yang baik-baik saja.
Wallahu Ta'ala A'la Wa A'lam Bis-Shawab. 

Monday, 17 December 2012

Dibalik konflik indo-Malaysia

 Indonesia dan Malaysia dua negara yang bertetangga ini  selalu saja dirundung konflik, keduanya menjadi tidak akur, tidak mencerminkan  seharusnya tetangga, dari mulai konflik budaya,tenaga kerja, lagu kebangsaan sampai konflik yang mengarah pada personal atau individu.
Jika dilihat dengan kasat mata seolah-olah konflik  ini disebabkan oleh lemahnya hubungan diplomatik yang kontruktif, namun jika dicermati lebih  mendalam sepertinya konflik ini bersifat terorganisir hal ini terlihat  dengan maraknya konflik yang begitu sering, seolah - olah sudah dijadwalkan, apalagi konflik ini sudah tercipta sejak  presiden soekarno.
Beragam spekulasipun muncul,   di antaranya  memang  ada negara ketiga yang memang sengaja menciptakan konflik antara indonesia dan Malaysia,  faktor peningkatan ekonomi  di antara kedua negara juga menjadi salah satu prediksi.
 Menurut  Pakar Melayu Prof. Dr. Datoe Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia  (UKM) mengamini bahwa ada intervensi pihak luar di balik perseteruan kedua Negara serumpun muslim ini.
                Namun siapakah pihak luar yang sengaja menciptakan permasalahan ini, jika kita kaji bahwa indonesia  dan Malaysia adalah negara dengan jumlah umat islam terbesar di Asia tenggara, negara serumpun ini pada asalnya penduduknya se-aqidah, dan jika kita kembali kemasa lalu ulama’-ulama’ melayu  tidak pernah mengajarkan konflik seperti ini, kita dapat melihat dekatnya Buya Hamka dengan Malaysia pada waktu itu.
Boleh jadi yang menciptakan konflik itu adalah para musuh-mush islam itu sendiri  karena sejak zaman sejarah dahulu mereka sengaja melemahkan islam di Indonesia dan Malaysia.
Salah satu strategi mereka dahulu ialah seperti yang terkutip dalam memoar buku Thomas Raffles yaitu, Barat harus memastikan bahwa alam Melayu ini lemah. Untuk melemahkan, Raffles mengusulkan dua buah strategi.
Pertama, imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu, melainkan majemuk.
Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu yakni Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. Jadi, tujuan mereka memang untuk memisahkan Arab dengan Melayu.
Boleh jadi program mereka telah berkembang sampai pada menciptakan konflik di antara dua negara Maka diwujudkanlah isu sekarang, konfrontasi Malaysia-Indonesia. Melalui media sekular di Negara ini, mereka terus berupaya agar rumpun Melayu bangga akan identitas negara-nya masing-masing. Sehingga menghilangkan nilai-nilai ukhuwah sesama muslim.
Hal ini juga diperkuat  oleh pernyataan  pengamat politik Najumuddin dari Universitas Andalas Padang yang mengatakan "Para pelobi Yahudi yang berkolaborasi dengan AS memungkinkan berada di balik memuncaknya ketegangan Indonesia-Malaysia di blok Pulau Ambalat”.

ila Online - Just For Fun
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Site Search